Ribut dengan Komandan, 100 Tentara Israel Dilaporkan Kabur Massal dari Pangkalan Militer

Sekitar 100 prajurit infanteri Israel sempat meninggalkan pangkalan militer Sde Teiman di Israel selatan setelah terjadi perselisihan dengan komandan batalion. Peristiwa ini kemudian memicu penyelidikan internal karena dinilai mencerminkan persoalan disiplin di lingkungan militer.
Insiden tersebut terjadi pada Kamis ketika puluhan hingga sekitar seratus personel dari Batalyon Tzabar, Brigade Givati, meninggalkan pangkalan mereka setelah meletakkan senjata dan berjalan keluar secara berkelompok. Aksi itu dipicu oleh keputusan komandan batalion yang menghancurkan papan tanda dekoratif yang sebelumnya dipasang oleh para prajurit.
Militer Israel (IDF) mengonfirmasi adanya kejadian tersebut dan menyatakan bahwa tindakan para prajurit sedang ditangani melalui jalur komando.
“Aksi mogok massal oleh pasukan dari Batalyon Tzabar Brigade Givati sedang diselidiki dan ditangani oleh para komandan,” demikian pernyataan IDF yang dikutip Times of Israel, Jumat (31/7/2026).
Dalam pernyataan yang sama, IDF menilai tindakan meninggalkan pangkalan tidak sejalan dengan standar yang diharapkan dari personelnya.
“Ini adalah insiden yang tidak sesuai dengan nilai-nilai IDF dan dengan apa yang diharapkan dari para prajuritnya.”
Menurut keterangan militer, sebagian besar prajurit akhirnya kembali ke pangkalan pada hari yang sama. Namun, satu peleton yang diperkirakan berisi sekitar 30 hingga 40 personel dilaporkan belum kembali saat laporan awal disampaikan.
Rekaman Video Memperlihatkan Prajurit Keluar Beramai-ramai
Sejumlah rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan para prajurit berjalan meninggalkan pangkalan secara berkelompok. Dalam video tersebut terdengar teriakan yang ditujukan kepada para perwira.
Rekaman lain memperlihatkan sejumlah senjata yang ditinggalkan dalam kondisi bertumpuk di area pangkalan. Video tersebut juga menunjukkan puing-puing papan tanda yang telah dihancurkan, termasuk salah satu papan yang memuat tulisan “Kerajaan Setan”.
Bagi para prajurit, papan tersebut disebut sebagai bagian dari tradisi kompi yang telah lama dijalankan.
Namun, pihak IDF memiliki penilaian berbeda. Menurut militer, papan itu memuat materi yang dianggap merendahkan prajurit pemula sehingga tidak sesuai dengan nilai yang diterapkan dalam institusi militer.
Perselisihan Berujung Ancaman Status AWOL
Untuk meredakan situasi, jajaran komando Brigade Givati memberikan batas waktu kepada seluruh personel agar kembali ke pangkalan Sde Teiman sebelum pukul 16.00 waktu setempat.
Dalam pesan yang disampaikan kepada anggota batalion, komandan menegaskan akan dilakukan pengecekan kehadiran setelah tenggat waktu berakhir.
Personel yang tidak kembali hingga batas waktu tersebut akan dikategorikan sebagai AWOL (Absent Without Official Leave/Absen Tanpa Izin). Nama mereka kemudian akan diteruskan kepada Polisi Militer untuk diproses sesuai prosedur yang berlaku.
Pesan itu juga menegaskan bahwa pemeriksaan dilakukan tepat setelah pukul 16.00 untuk memastikan siapa saja yang telah kembali ke kompi dan siapa yang masih berada di luar pangkalan.
Berdasarkan informasi terbaru dari IDF, pada malam harinya mayoritas prajurit telah kembali, sementara satu peleton masih belum bergabung kembali ke pangkalan.
Insiden Ini Menyoroti Tantangan Penegakan Disiplin
Peristiwa di Sde Teiman kembali menyoroti tantangan penegakan disiplin di lingkungan militer ketika terjadi perselisihan antara prajurit dan komandan.
Dalam artikel sumber juga disebutkan bahwa satuan infanteri IDF pernah mengalami kasus perpeloncoan terhadap rekrutan baru maupun aksi desersi massal yang dikaitkan dengan dugaan perlakuan buruk dari atasan. Latar belakang tersebut menjadi konteks mengapa insiden di Batalyon Tzabar mendapat perhatian dari jajaran komando.
Meski demikian, dalam kasus terbaru ini, IDF menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah menyelesaikan penyelidikan internal sekaligus memastikan seluruh personel kembali menjalankan tugas sesuai aturan yang berlaku.
Perkembangan penyelidikan diperkirakan akan menjadi dasar bagi langkah disipliner berikutnya terhadap prajurit yang masih belum kembali maupun terhadap pihak-pihak yang dinilai bertanggung jawab atas insiden tersebut.