AS Tegaskan Penguasaan 65 Miliar Barel Minyak Venezuela Bukan Aksi Pencurian

Polemik mengenai keterlibatan Amerika Serikat dalam pengelolaan sumber daya energi Venezuela kembali mencuat. Washington membantah anggapan bahwa kesepakatan tersebut merupakan upaya untuk mengambil minyak Venezuela, meski AS disebut akan memperoleh kendali mayoritas atas sumber daya minyak dalam jumlah sangat besar.
Menteri Energi AS Chris Wright pada Rabu (2/9/2026) menegaskan bahwa narasi mengenai Washington “mencuri minyak Venezuela” tidak sesuai dengan kenyataan.
Pernyataan itu disampaikan setelah Venezuela memberikan akses kepada Amerika Serikat terhadap sebagian besar sumber daya alamnya. Dalam kesepakatan tersebut, AS akan mengambil alih kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel minyak.
Angka tersebut bukan jumlah kecil. Cadangan itu setara dengan hampir 20 persen minyak yang berada di Venezuela, negara yang dikenal memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Caracas sendiri memperkirakan kesepakatan tersebut dapat menghasilkan pendapatan sekitar 209 miliar dolar AS atau sekitar Rp3.713 triliun selama 25 tahun.
Chris Wright: Minyak Tetap Milik Rakyat Venezuela
Besarnya nilai sumber daya yang masuk dalam kesepakatan membuat isu kepemilikan menjadi sorotan. Wright berusaha meluruskan persepsi tersebut dengan menekankan bahwa kepemilikan minyak Venezuela tidak berpindah kepada Amerika Serikat.
“Saya sudah melihat judul-judul berita itu. ‘Kita mencuri minyak Venezuela’. Tentu saja, itu sama sekali tidak benar,” ujar Wright, dikutip dari AFP.
Menurut dia, minyak yang berada di Venezuela tetap menjadi milik rakyat Venezuela. Mekanisme yang ditawarkan AS, kata Wright, lebih berkaitan dengan bagaimana sumber daya yang selama ini belum menghasilkan tersebut dikembangkan.
Ia menjelaskan, perusahaan swasta menyediakan modal untuk memproduksi minyak. Sementara itu, keuntungan, royalti, dan pajak dari kegiatan tersebut tetap mengalir kepada pemerintah Venezuela dan rakyatnya.
Dengan penjelasan tersebut, Washington mencoba menggambarkan kesepakatan bukan sebagai pengambilalihan kepemilikan minyak, melainkan sebagai kerja sama untuk mengaktifkan sumber daya yang belum memberikan hasil maksimal.
Washington Soroti Minyak yang Belum Produktif
Salah satu poin penting dari pernyataan Wright adalah kondisi sumber daya minyak Venezuela yang disebutnya masih “terpendam” dan tidak menghasilkan apa-apa bagi rakyat.
Menurut Wright, langkah Amerika Serikat adalah membawa modal dan teknologi untuk mengembangkan aset tersebut.
“Sama sekali bukan soal mengambil minyak itu. Yang kami lakukan hanyalah mengambil aset terpendam dan tidak menghasilkan apa pun bagi rakyat Venezuela, lalu membawa uang dan teknologi untuk mengembangkannya,” kata Wright.
Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan bagaimana pemerintah AS membingkai kepentingannya di sektor energi Venezuela. Fokusnya bukan hanya pada jumlah cadangan minyak, tetapi juga pada kemampuan mengubah cadangan tersebut menjadi aktivitas produksi dan pendapatan.
Jika skema tersebut berjalan sesuai yang diharapkan, Venezuela berpotensi memperoleh pemasukan dalam jumlah besar melalui keuntungan, royalti, dan pajak yang berasal dari aktivitas produksi.
Di sisi lain, perusahaan yang terlibat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan sumber daya energi dengan dukungan modal dan teknologi.
Masalah Energi Venezuela Tidak Hanya Soal Minyak
Menariknya, Wright tidak hanya membicarakan minyak ketika menjelaskan tantangan sektor energi Venezuela.
Ia juga menyoroti kondisi kelistrikan negara tersebut. Menurut Wright, sebagian besar wilayah Venezuela masih mengalami pemadaman listrik selama berjam-jam setiap hari.
Persoalan tersebut menjadi penting karena produksi minyak sendiri membutuhkan pasokan listrik.
Artinya, pengembangan sektor minyak tidak dapat dilepaskan dari kondisi infrastruktur energi secara keseluruhan. Memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar belum otomatis membuat produksi berjalan optimal jika infrastruktur pendukungnya tidak mampu menopang kegiatan industri.
Dalam konteks ini, pembenahan sektor kelistrikan menjadi bagian yang tidak kalah penting dari pengembangan sumber daya minyak Venezuela.
Nilai Kesepakatan Mencapai Ratusan Miliar Dolar
Caracas memperkirakan pendapatan dari kesepakatan tersebut mencapai 209 miliar dolar AS selama periode 25 tahun.
Jika dibandingkan dengan nilai sumber daya yang terlibat, angka tersebut menunjukkan betapa besar kepentingan ekonomi di balik kerja sama ini.
Lebih dari 65 miliar barel minyak menjadi bagian dari sumber daya yang akan berada di bawah kendali mayoritas AS. Namun, pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa pengelolaan tersebut tidak sama dengan kepemilikan atas minyak Venezuela.
Perbedaan antara kendali atas pengembangan aset dan kepemilikan sumber daya menjadi salah satu isu utama dalam polemik ini.
Bagi Venezuela, keberhasilan kesepakatan pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan mengubah cadangan energi menjadi pendapatan nyata. Sementara bagi AS, tantangannya adalah membawa modal dan teknologi ke sektor yang masih menghadapi persoalan infrastruktur, terutama kelistrikan.
Persoalan Berikutnya: Apakah Produksi Bisa Berjalan Optimal?
Besarnya cadangan minyak Venezuela memang menjadi daya tarik utama. Namun, pernyataan Wright menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak berhenti pada persoalan akses terhadap minyak.
Produksi membutuhkan investasi, teknologi, serta infrastruktur energi yang memadai. Ketika pemadaman listrik masih berlangsung selama berjam-jam di sejumlah besar wilayah, pengembangan sektor minyak otomatis menghadapi persoalan tambahan.
Karena itu, perkembangan kesepakatan ini nantinya tidak hanya akan diukur dari seberapa besar sumber daya yang dikuasai atau dikembangkan, tetapi juga dari seberapa jauh investasi tersebut mampu meningkatkan produksi dan menghasilkan pendapatan bagi Venezuela.
Di tengah tudingan mengenai “pencurian minyak”, Washington memilih menekankan aspek investasi dan pengembangan aset. Sementara itu, besarnya nilai ekonomi kesepakatan membuat pelaksanaannya tetap menjadi perhatian, terutama karena menyangkut sumber daya minyak dalam jumlah sangat besar dan berlangsung selama 25 tahun.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kesepakatan tersebut bukan sekadar siapa yang memegang kendali atas pengembangan minyak, tetapi apakah sumber daya Venezuela benar-benar dapat berubah menjadi manfaat ekonomi yang dirasakan pemerintah dan rakyatnya.
Editor: Rifan Lufi