Ramai di Medsos Narasi Gibran Ditanya Soal Keracunan MBG,’Bukan Saya yang Masak’ Dede Budhyarto Sebut Hoaks

The Times Of Indonesia – Narasi soal Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disebut menjawab kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan kalimat “saya gak tahu karena bukan saya yang masak” kembali beredar di media sosial. Namun, kutipan tersebut dibantah dan disebut bukan pernyataan yang pernah disampaikan Gibran.
Pegiat media sosial Dede Budhyarto menjadi salah satu pihak yang menyoroti peredaran narasi tersebut. Menurut Dede, kalimat yang dikaitkan dengan Wakil Presiden itu merupakan meme atau quote hoaks yang sudah beredar sejak April 2026.
Melalui akun X @kangdede78 pada Sabtu (5/9/2026), Dede menyebut narasi tersebut telah muncul berulang kali di media sosial dengan bentuk unggahan yang serupa.
“Gibran bilang ‘saya gak tau karena bukan saya yang masak’ soal keracunan MBG adalah meme/quote HOAKS yg serentak beredar sejak April 2026,” tulis Dede.
Narasi lama kembali muncul saat isu keracunan MBG ramai
Peredaran kembali kutipan tersebut menjadi perhatian karena muncul ketika kasus keracunan yang dikaitkan dengan program MBG tengah ramai diberitakan.
Terbaru, ribuan siswa dari 19 sekolah di Sidoarjo dilaporkan mengalami keracunan. Situasi tersebut membuat pembahasan mengenai pelaksanaan program MBG kembali menjadi sorotan di ruang publik, termasuk di media sosial.
Di tengah situasi itu, sebuah unggahan di akun X @safa_andriana kembali mengaitkan Gibran dengan kalimat yang seolah-olah merupakan tanggapan langsung terhadap persoalan tersebut.
Unggahan itu menampilkan foto Gibran disertai narasi berupa pertanyaan mengenai banyaknya kasus keracunan MBG. Pertanyaan yang dicantumkan berbunyi, “banyak keracunan MBG, bagaimana tanggapan bapak sebagai pengusul program ini?”
Dalam gambar tersebut kemudian ditampilkan jawaban yang diklaim berasal dari Gibran.
“Saya gak tau karena bukan saya yang masak,” demikian kutipan yang dicantumkan dalam unggahan tersebut.
Narasi itu kemudian disertai komentar tambahan dari akun yang mengunggahnya. Pernyataan tersebut disebut terdengar seperti upaya untuk melepaskan tanggung jawab dari persoalan yang terjadi.
Unggahan tersebut selanjutnya mendapat berbagai respons dari pengguna media sosial.
Dede mencantumkan sejumlah akun yang menyebarkan
Dede Budhyarto tidak hanya menyebut narasi itu sebagai hoaks. Dalam unggahannya, ia juga melampirkan daftar akun yang menurutnya pernah memposting meme atau narasi dengan isi serupa.
Setidaknya terdapat tujuh akun yang disebut dalam unggahan tersebut.
Akun @Destiny_Kurn disebut mempostingnya pada 4 September 2026. Kemudian @safa_andriana pada 3 September 2026 dan @arifbalikpapan1 pada 3 September 2026.
Selain itu, Dede mencantumkan @iwan_ikur yang disebut mengunggah narasi tersebut pada 4 Juni 2026, @iklanraja pada 27 Mei 2026, @herculep638 pada 18 Mei 2026, serta @BungongJeu97158 pada 6 April 2026.
“Berikut akun yg memposting HOAKS versi meme atau narasi serupa beserta tautannya,” tulis Dede.
Rangkaian tanggal tersebut menjadi bagian penting dari bantahan Dede. Sebab, menurut dia, narasi mengenai kutipan tersebut bukan baru muncul ketika kasus keracunan MBG kembali ramai, melainkan sudah beredar beberapa bulan sebelumnya.
Tidak ditemukan bukti valid Gibran pernah mengucapkannya
Persoalan utama dalam narasi tersebut terletak pada klaim bahwa kalimat “saya gak tahu karena bukan saya yang masak” merupakan ucapan langsung Gibran.
Namun, berdasarkan penelusuran tim The Times Of Indonesia, tidak ditemukan video atau bukti valid yang menunjukkan Wakil Presiden pernah menyampaikan pernyataan tersebut.
Dengan demikian, foto Gibran yang digunakan dalam unggahan tidak serta-merta membuktikan bahwa kutipan yang ditempelkan di dalamnya benar-benar berasal dari orang yang ada di foto.
Hal ini penting dalam membaca informasi yang beredar di media sosial. Sebuah gambar yang memuat foto tokoh publik dan kutipan tertentu dapat dengan mudah dipersepsikan sebagai pernyataan asli, meskipun sumber suara atau rekaman pernyataannya tidak tersedia.
Dalam kasus ini, Dede justru menyebut kutipan tersebut sebagai meme atau quote hoaks yang telah beredar sejak April 2026.
Mengapa narasi seperti ini kembali muncul?
Kemunculan kembali narasi lama bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap kasus keracunan MBG menunjukkan bagaimana isu yang sudah pernah beredar dapat kembali mendapatkan perhatian ketika situasi serupa menjadi perbincangan publik.
Konteks waktunya menjadi penting. Ketika pemberitaan mengenai keracunan MBG kembali ramai, sebuah kutipan lama yang mengatasnamakan pejabat terkait dapat dengan cepat dikaitkan dengan peristiwa terbaru.
Padahal, antara sebuah peristiwa yang benar-benar terjadi dengan kutipan yang beredar di media sosial terdapat persoalan berbeda yang harus diverifikasi secara terpisah.
Kasus keracunan MBG merupakan satu hal, sedangkan klaim bahwa Gibran pernah mengucapkan kalimat tertentu merupakan hal lain. Keduanya tidak otomatis menjadi benar hanya karena muncul dalam unggahan yang sama.
Verifikasi menjadi penting sebelum ikut menyebarkan
Perdebatan mengenai kutipan Gibran ini memperlihatkan pentingnya memeriksa sumber asli sebuah pernyataan, terutama ketika menyangkut pejabat publik dan isu yang sedang mendapat perhatian luas.
Kutipan yang terlihat meyakinkan dalam sebuah gambar belum cukup untuk memastikan bahwa pernyataan tersebut benar-benar pernah disampaikan. Rekaman video, pernyataan resmi, atau sumber primer menjadi bagian penting untuk memastikan keasliannya.
Dalam kasus ini, Dede Budhyarto menyatakan kutipan tersebut sebagai hoaks dan menunjukkan sejumlah unggahan yang menurutnya telah menyebarkan narasi serupa sejak April 2026.
Sementara itu, artikel sumber menyebut penelusuran media tidak menemukan bukti valid berupa video pernyataan yang menunjukkan Gibran benar-benar mengucapkan kalimat tersebut.
Karena itu, narasi “saya gak tahu karena bukan saya yang masak” yang dikaitkan dengan Gibran perlu ditempatkan sebagai klaim yang telah dibantah, bukan sebagai pernyataan resmi Wakil Presiden.
Di tengah derasnya arus informasi mengenai kasus MBG, membedakan antara fakta peristiwa dan kutipan yang belum terbukti menjadi langkah penting agar informasi yang beredar tidak semakin bercampur dan menimbulkan kesimpulan yang keliru.